Jumat, 07 April 2017

resume 3

PERANGKAT UNTUK MENGAJAR YANG EFEKTIF DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN

Berikut ini adalah ide dasar tentang bidang psikologi pendidikan, termasuk sejarahnya, dan pengajaran yang efekktif tergantung pada seni sains:
  • psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman proses pengajar dan belajar dalam lingkungan pendidikan. William James dan John Dewey adalah perintis pentingnya psikologi pendidikan, dewey mengatakan anak sebagai pembelajaran yang aktif, pendidikan untuk semua anak, penekanan adaptasi anak terhadap lingkungannya, dan cita-cita demokratis agar semua anak mendapatkan pendidikan yang baik. Hanya ada sedikit tokoh dari kelompok etnis minioritas dan beberapa prempuan diawal sejarah psikologi pendidikan karena adanya hambatan etnis dan gender. Perkembangan lebih lanjutnya adanya muncul behaviorisme skinner pada pertengahan abad ke-20 dan revolusi kognitif pada 1980-an. Pada tahun belakangan ini muncul minat yang luas terhadap aspek sosioemosional dari kehidupan anak, termasuk konteks kultural.
  • Mengajar terkait dengan sains dan seni. Dari segi sains, informasi dari riset psikologis dapat memberikan ide yang berharga. Dari segi seni, keahlian dan pengalaman berperan penting untuk pengajaran yang efektif.

Berikut adalah sikap dan keahlian dari seorang guru yang efektif antara lain:
  • guru yang efektif menguasai mata pelajaran, menggunakan strategi mengajar yang efektif, dan mempunyai bidang keahlian, antara lain bidang tersebut adalah: perencanaan dan penentuan tujuan, menejemen kelas, bekerja dengan kelompok yang etnis dan kultural yang berbeda-beda.
  • Menjadi guru yang efektif juga membutuhkan komitmen dan motivasi. Ini mencakup sikap yang baik dan penuh perhatian kepada murid. Guru mudah terseret ke sikap yang negatif tatapi sikap ini akan mempengaruhi murid dan menggangu proses belajar mereka.
  • Riset evaluasi program adalah riset yang di desain untuk membuat keputusan tentang efektivitas program tertentu. Riset aksi dipakai untuk memecahkan masalah sosial atau problem kelas tertentu, meningkatkan strategi pengajaran, atau membuat suatu keputusan tentang lokasi yang spesifik.

Metode Riset, adalah langkah penting dalam metode ilmiah. Pengumpulan data adalah cara fundamental untuk menguji hipotesis. Misalnya, seorang periset psikologi pendidikan ingin mengetahui apakah banyak menonton acara MTV akan mengalihkan perhatian murid dari belajar, apakah sarapan pagi yang bernutrisi tinggi meningkatkan kosentrasi belajar dikelas, atau apakah memperpanjang jam istirahat akan mengurangi murid yang bolos, maka periset itu akan menggunakan metode pengumpulan periset. Ada tiga metode yang akan dipakai dalam pengumpulan informasi psikologi pendidikan, antara lain yaitu deskriptif, korelasional, dan ekspremental.
  1. Riset deskriptif, bertujuan mengamati perilaku murid tersebut. Misalnya, seorang ahli psikologi pendidikan mengamati sejauh mana anak-anak bersikap agresif didalam kelas, atau mewancarai guru tentang sikap mereka terhadap jenis strategi pengajaran tertentu. Riset deskriptif tidak akan sendirinya bisa membuktikan apa penyebab dari suatu fenomena, tetapi bisa mengungkapkan informasi penting tentang perilaku dan sikap seseorang.
  2. Riset korelasional, mendeskripsikan kekuatan hubungan antara dua atau lebih kejadian. Riset ini berguna karena semakin kuat dua hubungan antar dua peristiwa, maka kita bisa memprediksi satu kejadian secara efektif. Misalnya, jika peneliti bisa menemukan bahwa pengajaran yang permisif dan kurangnya perhatian mungkin merupakan salah satu sumber dari kurangnya kontrol diri. Namun disini kita harus berhati-hati bahwa korelasi tidak dengan sendirinya merupakan hubungan sebab akibat. Temuan korelasi seperti contoh diatas bukan berati pengajaran yang permisif selalu menyebabkan kontrol diri yang rendah bagi si murid. Kesimpulan tersebut bisa jadi betul, tetapi murid menyebabkan guru menjadi patah arang dan enggan berusaha untuk mengendalikan kelas yang sudah diluar kontrol.
  3. Riset eksperimental, dengan riset ini para ahli psikologi pendidikan bisa menemukan sebab-sebab perilaku. Ahli psiklogi bisa mengambil sebab-sebab tersebut dengan melakukan eksperimen, yakni prosedur yang diatur secara berhatii-hati dimana satu faktor atau lebih dianggap memepengaruhi sikap perilaku yang sedang diteliti akan dimanipulasi dan semua faktor lainnya dianggap konstan. Dalam riset eksperimental ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan dependen.
  • Variabel independen, adalah faktor yang dimanipulasi, yang dipengaruhi, faktor ekperimental. Label “independen” menunjukan bahwa variabel ini bisa diubah terlepas dari faktor-faktor lain. misalnya, kita ingin mendesain eksperimen untuk mempelajari efek dari kelompok belajar bersama terhadap prestasi murid. Dalam contoh ini, jumlah dan jennis kelompok belajar bersama dapat menjadi variabel independen.
  • Variabel dependen, faktor yang mengukur dalam sebuah eksperimen. Variabel in i juga bisa berubah apabila variabel independen dimanipulasi. Lebel “dependen” menunjukan bahwa nilai dari variabel ini tergantung pada apa yang terjadi pada partisipan eksperimen setelah variabel independen dimanipulasi. Dalam studi kelompok diatas bahwa belajar bersama adalah prestasi variabel dependen. Dalam eksperimen, variabel independen terdiri dari pengalaman-pengalaman yang berbeda yang diberikan pada suatu kelompok yang pengalamannya dimanipulasi. Kelompok ekperimental adalah sebuah kelompok pengalamannya dimanipulasi. Kelompok kontrol adalah kelompok pembandig yang diperlukan seperti kelompok eksperimental, kecuali dalam hal faktor yang dimanipulasi. Kelompok kontrol berfungsi sebagai dasar membandingkan efek dari kondisi manipulasi. Perinsif penting lainnya dalam riset eksperimental adalah penetapan acak, penetapan ini adalah penetapan partisispan ke kelompok eksperimental dan kelompok kontrol dilakukan secara acak.
Riset longitudinal merupakan mempelajari individu-individu yang sama selama periode waktu tertentu, biasanya beberapa tahun atau lebih. Riset cross-sectional adalah mempelajari kelompok orang pada satu waktu. Misalnya, seorang periset mungkin berminat untuk mempelajari rasa harga diri dari murid-murid dikelas 4,6,dan 8. dalam riset ini harga diri murid akan diukur pada satu waktu dengan menggunakan kelompok anak dari kelas 4, 6, dan 8. keuntungan dari riset ini adalah peneliti tidak perlu menunggu murid bertambah usia akan tetapi pendekatan ini tidak memberikan informasi tentang stabilitas diri murid, atau bagaimana harga diri itu berubah dari waktu ke waktu.

Tabel perbandingan metode riset korelasi dan eksperimental

korelasi
contoh
eksperimen
contoh
Tujuan
Menentukan apakah dua faktor berkorelasi satu sama lain.
Pertanyaan: apakah tutoring orang tua berhubungan dengan hasil pekerjaan rumah yang lebih baik?
Temukan apakah ada sebab akibat antara kedua faktor.
Pertanyaan: apakah tutoring orang tua menyebabkan hasil pekerjaan rumah menjadi lebih baik?
Metode pengumpulan data
Mencatat kejadian dua faktor yang berbeda dalam satu kelompok partisipan.
Cari tahu apakah orang tua mendampingin anaknya periksa kualitas pekerjaan rumah anak.
Bagi murid dalam dua kelompok: kelompok eksperimental dan kelompok kontrol.
Berikan kelompok eksperimental beberapa jenis perlakuan tertentu yang tidak diberikan kepada kelompok kontrol.
Bagi kelas dalam dua kelompok secara acak.
Catat kualitas pekerjaan rumah kelompok eksperimental sebelum eksperimen dimulai.
Kemudian minta lah orang tua dari kelompok eksperimental untuk mengajari anak-anaknya, dan melarang orang tua kelompok kontrol untuk mengajari anaknya.
Catat kualitas pekerjaan rumah dari masing-masing kelompok setelah tutoring dilakukan.
analisis
Menganalisis secara statistik faktor-faktor yang cenderung berkorelasi.
Periksa apakah tutoring tersebut berhubungan dengan hasil pekerjaan rumah yang lebih baik atau tidak.
Analisis secara statistik apakah kelompok eksperimentsl berbeds dengan kelompok kontrol setelah mendapatkan perlakuan teretentu tersebut.
Lakukan analisis apakah tutoring meningkatkan kualitas pekerjaan rumah atau tidak.
interprestasi

Simpulkan apakah pekerjaan rumah dan tutoring saling berkorelasi atau tidak.
Sebuah kaitan mungkin berupa sebab akibat, tetapi tidak bisa dibuktikan dengan asosiasi ini.

Simpulkan bahwa tutoring menyebakan peningkatan mutu pekerjaan rumah tidak dalam kelompok eksperimental.

Kamis, 06 April 2017

resume 2



Hai sahabat blogger yang setia!!!!
Kali ini wanda akan memposting materi yang mengenai motivasi dalam belajar loo, kenapa kita perlu motivasi dalam pembelajaran wahai sahabat blogger?, mari kita baca materi berikut supaya tau kenapa kita perlu bermotivasi dalam pembelajaran yaa.


Motivasi, Pengajaran, dan Pembelajaran
Mempelajari motivasi adalah komponen utama dari prinsip psikologi learned-center loo sahabat blogger dan motivasi adalah aspek penting dari pengajaran dan pembelajaran. Tahukah kamu wahai sahabat blogger, murid yang tidak punya motivasi itu tidak akan berusaha keras untuk belajar dan murid yang bermotivasi itu lebih tinggi senang kesekolah dan menyerap proses pembelajaran nya lebih cepat loo. Untuk itu kita harus mempunyai motivasi dalam proses pembelajaran kita.
Mengeksplor MotivasiSeorang pemuda kanada, Terry Fox, menyelesaikan lari jarak jauh yang luar biasa dalam sejarah. Beliau lari sejauh jarak lari maraton (26,2 mil) setiap hari selama lima bulan, dan karena nya menempuh total 3359 mil melintasi kanada. Apa yang membuatnya luar biasa adalah karena terry fox kehilangan satu kakinya akibat kanker sebelum lari, dan karena nya ia berlari dengan batntuan kaki palsu. Terry Fox jelas orang yang penuh motivasi, tapi sahabat blogger tahu apa itu motivasi?




Apa itu motivasi?
Motivasi adalah proses yang memberi semangat , arah, dan kegigihan perilaku. Yang artinya, perilaku termotivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah dan bertahan lama. Sahabat blogger tahu mengapa Terry Fox menyelesaikan larinya? Karena ketika Terry masuk rumah sakit karena terkena penyakit kanker, dia berkata pada dirinya sendiri bahwa jika dia bisa bertahan hidup maka dia akan melakukan sesuatu untuk membantu mendanai riset kanker. Jadi sahabat blogger tahu kan bahwa motivasi dari tindakan Terry Fox berlari itu adalah untuk memberi tujuan bagi hidupnya dengan membantu orang lain yang menghidap kanker. Tindakan Terry fox dilakukan dengan semangat, punya arah (tujuan) dan gigih (bertahan lama).
Image result for gambar terry fox berlari dengan kaki palsu
Perspektif Tentang MotivasiPerspektif Psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Mari kita bahas empat perspektif itu ya sahabat blogger; behavioral, humanistis, kognitif, dan sosial.
Persepektif Behavioral, menekankan pada imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam membentuk motivasi murid. Insentif adalah perilaku peristiwa atau stimuli positif atau negatif yang dapat memotivasi perilaku murid.
Persepektif Humanistik, menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, kebebasan untuk memilih nasib mereka, dan kualitas positif (seperti peka terhadap orang lain).
Hieraki kebutuhan maslow, konsep maslow ini bahwa kebutuhan individual harus dipuaskan dalam urutan kebutuhan.
Image result for gambar hierarki kebutuhan maslow
  1. kebutuhan fisiologis: rasa lapar, haus, dan tidur
  2. rasa aman: bertahan hidup, seperti perlindungan dari perang dan kejahatan.
  3. Kasih sayang: keamanan, kasih sayang, dan perhatian terhadap orang lain.
  4. Penghargaan: menghargai diri sendiri.
  5. Aktualisasi diri: realisasi potensi.
Aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dan sulit dalam herarki maslow, diberi perhatian khusus atau aktualisasi adalah motivasi untuk mengembangkan potensi diri secara penuh sebagai manusia.
Motivasi kompetisi, yakni ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses secara efisien.

MOTIASI UNTUK MERAIH SESUATU
sahabat blogger harus tahu untuk meraih sesuatu apa yang kita inginkan kita harus mempunyai dua motivasi loo, yang pertama yaitu Motivasi Ekstrinsik, dan Motivasi Instrinsik;
Motivasi Esktrinsik, adalah melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain (cara mencapai tujuan). Motivasi ekstrinsik dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti imbalan dan hukuman. Misalnya, murid yang mungkin belajar keras menghadapi ujian untuk mendapatkan nilai yang baik, dan persepektif behavioral menekankan arti penting dari motivasi ekstrinsik dalam presentasi ini.
Motivasi Instrinsik, motivasi internal untuk melakukan sesuatu itu sendiri (tujuan itu sendiri). Misalnya murid yang mau menghadapi ujian akan senang pada mata pelajaran yang akan diujikan.

Rekomendasi murid yang murid berprestasi rendah dan sulit dijangkau
  • Murid yang rendah semangat merasa kurang percaya diri dan kurangnya motivasi dalam belajar. murid itu memang mungkin berkemampuan rendah dan ekspentasi yang rendah untuk sukses hingga ia membutuhkan bantuan dan dukungan, tetapi ia perlu juga diingatkan bahwa kemajuan akan diakui sepanjangsudah dilakukan upaya rill;murid  dengan sindrom kegagalan (yang punya ekspentasi rendah untuk seukses dan mudah menyerah), yang mungkin akan mendapat manfaat dari metode retraining kognitif, dan training strategi dan murid yang berprestasi akan melindungin harga diri dan menghindari kegagalan yang mungkin akan mendapat manfaat dari aktivitas yang menarik, menetukan tujuan yang menantang tetapi dapat diraih, memperkuat antara harga diri dan usaha, punya keyakinan positif terhadap kemampuan mereka sendiri, dan hubungan murid-murid yang positif.
  • strategi untuk membantu murid yang tak tertarik atau teraliensi adalah membangun hubungan yang positif dengan murid tersebut, membuat sekolah menjadi lebih menarik bagi mereaka, strategi mengajar yang lebih menyenangkan, dan mempertimbangkan penggunaan mentor dari komunitas atau murid yang lebih tua sebagai orang pendukung bagi murid.
Sahabat blogger tahu hubungan dan konteks sosiokultural dapat menguatkan atau melemahkan motivasi looo, berikut ini adalah penjelasannya:
  • Motif sosial adalah kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman dengan dunia sosial. kebutuhan untuk afiliasi atau keterhubungan melibatkan motif untuk merasa aman dalam berhubungan dengan orang lain, yakni dengan menjalin, memelihara, dan memulihkan hubungan hangat yang personal.
  • Dari segi penerimaan sosialnya yaitu, baik itu penerimaan guru maupun teman sebaya sangat penting pada remaja awal, masa dimana dibutuhkan keputusan penting tentang apakah akan mengajar motif akademik atau sosial. memahami peran orang tua dalam motivasi murid membutuhkan pemahaman tentang karakteristik demografis, praktik pengasuhan anak, dan penyediaan pengalaman spesifik dirumah.
  • guru harus mengenali dan menghargai diversitas dalam kelompok kultural dan harus membedakan antara pengaruh status sosioekonomi dengan pengaruh etnis. kualitas sekolah bagi murid yang miskin lebih rendah dengan kualitas murid menengah keatas. perbedaan gender dalam prestasi berkaitan dengan  keyakinan dan nilai. perhatian utama adalah perbedaan gender dalam interaksi gueu dan murid, pelecehan seksual, dan bias gender.
Teori Atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memamhami perilaku. Weiner mengidentifikasi tiga dimensi kausal: (1) lokus, (2) stabilitas, (3) daya kontrol. kombinasi dari tiga dimensi ini menhasilkan penjelasan yang berbeda dalam kegagalan dan kesuksesan. orientasi penguasaan berfokus pada tugas bukan kemampuan, dan melibatkan  sikap positif dan strategi berorientasi solusi. orientasi helpless fokus pada kelemahan personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukan sikap negatif.

kecemasan, perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. kecemasan tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang realistis. kecemasan murid makin bertambah ketika mereka makin tua menghadapi banyak evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan. program kognitif yang mengganti pemikiran yang merugikan diri sendiri dengan pemikiran yang konstruktif dan positif agar lebih efektif untuk mengingatkan prestasi ketimbang melakukan program relaksasi.

resume 1


Hai sahabat blogger!!!!
pada postingan blogger wanda kali ini wanda akan membawakan materi tentang pembelajaran loo supaya kita tahu apa itu proses pembelajaran dan apa itu yang bukan proses pembelajaran.
Untuk itu mari kita membaca materi ini supaya kita tahu apa itu proses pembelajaran yang baik, oke langsung saja sahabat bloger membacanya dan semoga pada materi ini bermanfaat untuk sahabat blogger. Selamat membaca!!!



Pendekatan Behavioral dan Kognitif Sosial



Pada teori ini kita akan membahas tentang apa itu pembelajaran, apa yang disebut belajar dan bukan belajar, pendekatan untuk pembelajaran, pendekatan behavioral unttuk pembelajaran, dan lainnya yang mengenai dengan proses pembelajaran.
Yang dimaksud pembelajaran yaitu proses permanen dalam perilaku, pengetahuan, dan keterampilan kognitif yang terjadi melalui pengalaman. Pembelajaran bukan juga proses yang terjadi secara berwaris sejak lahir. Pada pendekatan yang didiskusikan pada materi ini dinamakan behavioral. Behaviorisme adalah pandangan dalam suatu perilaku yang dijelaskan melalui pengalaman yang dapat diobservasi secara langsung, bukan melalui proses mental. Pengkodisian klasik dan operan adalah pandangan behaviorisme yang menekankan pembelajaran asosiatif. Pada ahkir-ahkir ini ilmu psikologi semakin mengarah kognitif selama ahkir abad ke-20 dan penekanan kognitif masih berlanjut sampai sekarang. Ini mencerminkan ada empat pendekatan kognitif untuk pembelajaran dalam materi ini antara lain yaitu: pendekatan kognitif sosial yang menekankan pada interaksi faktor perilaku, lingkungan, dan person/kognisi dalam menjelaskan pembelajaran. Pendekatan pemerosesaninformasi menitiberatkan pada bagaimana anak mengolah informasi melalui atensi, memori, pemikiran, dan proses kognitif lainnya. Pendekatan konstruktivitis kognitif menekankan pada kontruksi pengetahuan dan pemahaman oleh anak. Pendekatan kontruktivitis sosila menekankan pada upaya kerjasama dengan orang lain untuk menghasilkan pengetahuan dan pemahaman.
Kalian tahu sahabat blogger perbandingan antara pengondisian klasik dengan pengondisian operan?
Perbandingan antara pengkondisian klasik dengan pengondisian operan antara lain yaitu;

Dalam pengondisian klasik, orang yang belajar itu menghubungkan stimulus atau mengasosiasikan stimulus. Stimulus yang netral (seperti melihat orang) menjadi diasosiasikan menjadi stimulus yang bermakna dan memperoleh kemampuan untuk menimbulkan respon (US), Conditioned stimulus (CS), Uncoditioned Respon (UR), dan Conditoned Respon (CR). Pengondisian klasik juga melibatkan generalisasi, diskriminasi, dan pelenyapan. Generalisasi adalah kecendrungan dari suatu stimulus baru yang sama dengan stimulus yang terkondisikan orisinil untuk menghasilkan respon yang serupa. Diskriminasi terjadi ketika organisme merespon pada stimulus tertentu tetapi tidak pada stimulus lain. Pelenyapan adalah pelemahan CR karena tidak ada US. Desensitisasi sistematis merupakan metode yang didasarkan pada pengondisian klasik untuk mengurangi kecemasan dengan visualisasi suksesif atau situasi yang menghasilkan kecemasan. Pengondisian klasik dapat lebih baik dalam menjelaskan perilaku nonsukarela ketimbang perilaku sukarela.
Dalam pengondisian operan atau pengkondisian instrumental, arsitek utama pengkondisian operan adalah B.F. Skinner , yang mendasarkan idenya pada pandangan konstruksionisan E.L Thorndike. Hukum efek Thorndike menyatakan bahwa perilaku yang diikuti hasil positif akan diperkuat, sedangkan yang diikuti hasil negatif akan diperlemah. Pandangan nya dinamakan teori S-R. Skinner mengembangkan ide thorndike ini. Penguatan adalah kosekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya suatu perilaku; hukumannya adalah kosekuensi yang menurunkan probabilitas terjadinya suatu perilaku. Dalam penguatan positif, perlaku meningkatkan stimulus imbalan. Dalam penguatan negatif perilaku menigkat karena responnya menghalagi stimulus yang tidak disukai. Dalam pengondisian operan juga ada generalisasi, diskriminas, dan pelenyapan. Generalisasi berati memberikan respon yang sam untuk stimulus yang sama. Diskriminasi berati membedakan antara stimuli atau kejadian lingkungan. Pelenyapan terjadi pada saat respon penguat sebelumnys tidsk lagi diperkuat dan responya menurun.
Berikut adalah amplikasi analisis perilaku untuk pendidikan;

Analisis perilaku terapan berati mengaplikasikan prinsif pengkondisian operan untuk mengubah perilaku manusia.
Prinsip Premack menyatakan bahwa aktivitas probabilitas tinggi dapat digunakan sebagai untuk penguat aktivitas probabilitas yang rendah. Perjanjian (contacting) adalah menempatkan kontigensi penguatan dalam kesepakatan tertulis. Sebuah dorongan adalah stimulus tambahan yang meningkatkan kemungkinan suatu stimuli diskriminatif akan menghasilkan hasil yang diinginkan. Pembentukan adalah pengajaran perilaku baru dengan secra terus-menerus memperkuat perilaku yang mendekati perilaku sasaran.
Strategi yang digunakan untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan antara lain; menggunakan penguatan disferensial, menghentikan penguatan, menjauhakan stimulus yang digunakan, dan menyajikan stimulus yang menyenangkan. Dalam penguatan diferensial, guru bisa memperkuat perilaku yang lebih tepat atau perilaku yang bertentangan dengan apa yang murid lakukan. Menghentikan pelenyapan adalah menghilangkan penguatan dari peilaku. Banyak perilaku yang tidak tepat justru bertahan karena atensi guru, jadi meninggalkan perhatian bisa meninggalkan perilaku yang tak tepat.
Apabila dipakai secara efektif, teknik behavioral dapat membantu sahabat blogger untuk mengelolah kelas. Kritikus mengatakan bahwa pendekatan ini terlalu menekankan pada kontrol eksternal dan kurangnya mengontrol internal. Mereka juga berargumen bahwa pengabdian faktor kognitif berati menyia-nyiakan potensi murid yang besar.para pengkritik itu memperingati bahwa guru yang terlalu fokus pada pengolahan kelas dengan menggunakan teknik operan mungkin akan terlalu memperhatikan perilaku dan kurang memperhatikan pembelajaran akademik.
Pendekatan kognitif sosial untuk pembelajaran;

Albert bandura adalah arsitek utama dari teori kognitif sosial, model pembelajarannya mencakup tiga faktor utamanya: perso/ kognisi , perilaku, dan lingkungan. Faktor person ditekankan oleh bandura belakangan ini adalah self-efficacy, keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil yang positif.
Pendekatan perilaku kognitif bertujuan membuat murid memonitor, mengelola, dan mengatur perilaku sendiri ketimbang dikontrol oleh faktor eksternal. Dalam beberapa kalangan pendekatan ini dinamakan moditifikasi perilaku kognitif. Pendekatan perilaku kognitif berusaha mengubah mikonsepsi murid, memperkuat keterampilan mereka dalam mengatasi masalah, meningkatkan kontrol diri mereka, dan mendorong refleksi diri konstruktif. Metode instruksi diri adalah teknik perilaku kognitif yang dimaksudkan mengajari murid mengganti pernyataan negatif tentang diri diri menjadi pernyataan yang lebih positif.

 

Minggu, 05 Maret 2017

Tugas Psikologi Pendidikan

Contoh Pendekatan Behavioral Untuk Pembelajaran
           
I. -Classical Conditioning
1.      Sebuah bunyi pistol yang awalnya merupakan stimulus netral. Ketika seorang anak mendengar bunyi pistol dan orang di hadapannya tertembak dan meninggal. Maka dia menangis setiap kali mendengar suara pistol. Jadi bunyi pistol (CS) diasosiasikan dengan orang meninggal (US) maka menangis adalah (UR) dan (CR).
2.      Waktu masih kecil, setiap ada bunyi yang lewat dari depan rumah, saya selalu, Segera berlari keluar utk membeli bakso tusuk. Ternyata yg lewat tukang –Siomay. Sejak saat itu, lama-kelamaan saya mulai terbiasa untuk membedakan bunyi2 yg lewat dari depan rumah saya. Hingga suatu hari, walaupun banyak bunyi jualan yg lewat, saya sudah bisa mengenal bunyi bakso bakar yg lewat.
3.      Ani sangat senang menonton film kartun. Suatu hari ibunya menyalakan TV dan memutar film kartun,Ani merasa sangat senang.Jadi, setiap kali Ani mendengar ibunya menyalakan TV Ani akan berlari dan merasa senang.
4.      Saya termasuk penggemar dari panganan Bakso. Penjual bakso tersebut menjual dagangannya dengan cara berkeliling dengan menggunakan motor dan sebagai penanda/penarik perhatian, ada benda yang mengeluarkan sebuah bunyi. Bunyi terompet angin di letakan di dekat rem tangan motornya itu. Bunyi itu juga memiliki suara jangkauan yang lumayan besar. Nah, di saat-saat awal dulu, saya keluar dari rumah untuk membelinya hanya jika penjual bakso itu telah berada hampir di depan rumah. Namun, lama kelamaan saya terbiasa dengan bunyi yang dikeluarkan oleh penjual itu. Dan akhirnya sekarang ini hanya dengan mendengar suaranya saja saya langsung bergegas keluar rumah.
5.      Adik saya, mulanya tidak takut dengan hal yang berbau dengan “hantu”. Atau hantu disini awalnya sebagai stimulus netral. Dahulunya ia memang tidak takut juga. Namun dikarenakan efek pengkondisisan berupa suara-suara yang menakutkan dan rupa wajah yang menakutkan juga ia lama kelamaan menjadi takut terhadap hal yang berbau hantu. Dan pada ahkirnya apabila ia ingin buang air kecil pada malam hari identik dengan kesan hantu dan segala macama nya, ia akan memilih menahan buang airnya ditoilet ditambah lagi waktunya pada malam hari.



II. -Operant Conditioning

1.      Ketika sudah tiba tahun baru, saya selalu menelepon kakek dan nenek saya dan mendapatkan pujian “anak baik” dan mendapat uang tahun baru. Sehingga saya tidak pernah melupakan untuk menelepon kakek dan nenek saya menjelang tahun baru.

2.      Suatu malam Bayu menonton televisi di kamarnya, ketika ibunya masuk ke kamarnya , ibunya mematikan televisi tersebut  dan menyuruhnya mengerjakan PR nya dan Ibunya berkata "kalau PR-mu belum siap kamu dilarang menonton televisi". Semenjak nasihat ibunya itu Bayu selalu mengerjakan PR terlebih dahulu dan setelah selesai baru Ia menonton televisi.

3.      Suatu saya masih duduk dikelas SMP (Sekolah Menengah Pertama) saya dijanjikan oleh ayah saya akan dibelikan sebuah sepeda, akan tetapi ayah saya meminta persyaratan kalau janji nya itu tidak ada latar belakang nya. Latar belakang nya yaitu kalau saya harus mendapat kan prestasi yang menonjol didalam sekolah, saya harus mendapatkan ranking 5 besar supaya sepeda yang dijanjikan akan segera dibelikan, oleh karena itu saya rajin membuka buku dan belajar untuk mendapatkan sepeda tersebut. Ahkirnya pada pembagian rapot SMP saya mendapatkan rangking 5 besar dan dibelikan sepeda kepada ayah saya karena sudah dijanjikan sebelum nya.

4.      Saat saya kelas 4 SD saya pernah dimarahi guru dan dihukum lari keliling lapangan  serta membersihkan kamar mandi karena terlambat. Saya merasa tidak senang dengan hukuman yang saya terima. Keesokan harinya,saya berusaha datang lebih cepat agar tidak terlambat dan saat itu saya datang tepat waktu sehingga guru tidak marah. Jadi, karena saya tidak suka dihukum saya lebih berusaha agar tidak datang terlambat lagi ke sekolah.

5.      Pada saat saya masih berada di bangku seolah kelas  dua  SMA, suatu waktu saya lupa membawa Kamus Bahasa Inggris. Tetapi, kemudian pada pertemuan berikutnya, saya selalu membawa kamus bahasa inggris.

Saya tidak membawa Kamus →  Saya tidak diizinkan berada di dalam kelas.
Pada permasalahn ini, saya terkena hukuman (punishment) untuk dapat menghilangkan perilaku saya. Hukuman ini merupakan hukuman yang diberikan dengan maksud untuk menghilangkan/memusnahkan sebuah perilaku. Maka dalam memberi punishment merupakan sikap guru saya yang tidak mengizinkan saya masuk ke dalam kelas karena saya tidak membawa buku kamus bahasa inggris.

III. Contoh Pendekatan Kognitif Untuk Pembelajaran
1.      Rina tidak suka meminum obat walaupun ia sedang sakit. Suatu hari Rina sakit demam dimana 3 hari lagi akan diadakan UAS, karena Rina takut tidak bisa ikut ujian dan harus ikut ujian susulan Rina pun meminum obatnya walaupun ia tidak suka.
2.      Anak-anak dapat menyelesaikan tugas-tugas lebih sulit ketika mereka memiliki bantuan dari banyak orang yang lebih paham atau pandai dan kompeten dari diri mereka.
3.      Dinda adalah seorang mahasiwa di Universitas Sumatera Utara. Dinda merupakan perokok aktif dan berat. Sebenarnya, Dinda tahu bahwa merokok tidak baik apalagi bagi kalangan wanita, resiko yang dihadapi akan sangat besar. Karena Dinda mengetahui dampak dari perilakunya dengan adanya program motivasi merokok merusak kesehatan dan dia ingin mengakhirinya, maka dia termotivasi serta berusaha keras untuk lepas dari rokok.
4.      Rinda selalu bermain puzzle di gadgetnya, pada percobaan pertama Ia selalu gagal dikarenakan belum terbiasa bermain puzzel digadgetnya, setelah mencoba beberapa kali Rinda pun berhasil memenangkan permainan tersebut menggunakan beberapa strategi dengan skor yang sangat tinggi.
5.      Pada suatu materi pelajaran dosen menjelaskan gambaran umum dari materi  yang berupa kumpulan dasar perhitungan dan pengertian umum, lalu yang kemudian memberikan contoh-contoh soal untuk diselesaikan dalam ukuran ataupun kurun waktu tertentu oleh masing-masing mahasiswa. Sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu dalam bentuk perilaku di lapangan (kehidupan sehari-hari).